Mewujudkan Kecamatan Bener SIAP Bebas BABS

Tema ini sejalan dengan Program Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) dan Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PIS-PK). GERMAS merupakan suatu tindakan sistematis dan terencana dalam membangun kesadaran, kemauan dan kemampuan berperilaku hidup sehat. Memang…..MENGUBAH perilaku warga tidaklah mudah, tidak segampang membalikan telapak tangan, selain memerlukan waktu yang cukup panjang juga tenaga serta biaya yang tidak murah. Apalagi kebiasaan itu sudah berlangsung berpuluh-puluh tahun sehingga perlu langkah tepat untuk memasang strategi agar Perilaku buruk bisa diperbaiki. Perilaku Buang Air Besar Sembarangan (BABS) termasuk salah satu contoh perilaku yang tidak sehat. BABS/Open Defecation Free adalah suatu tindakan membuang kotoran atau tinja di ladang, hutan, semak – semak, sungai, pantai atau area terbuka lainnya dan dibiarkan menyebar mengkontaminasi lingkungan, tanah, udara dan air.

 

Pemicuan Stop BABS desa Medono
Pemicuan Stop BABS desa Ketosari

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Melalui Pemicuan Stop BABS yang dilakukan terus menerus tanpa rasa bosan dengan pemetaan wilayah dusun-dusun di Desa dan dilakukan Transect Walk. Masyarakat dikumpulkan dan mengisi formulir jamban sehat lalu dilakukan Simulasi ‘Ayo Hidup Sehat, Mulai Dari Kita’ untuk ditularkan ke keluarga dan masyarakat setempat  “Secara bersama-sama, kita bangun kesadaran dan ubahlah mindset, budaya lama yang dari nenek moyang buang jauh- jauh dan kalau diterapkan zaman sekarang sudah tidak pantas.

Kementerian Kesehatan telah menetapkan syarat dalam membuat jamban sehat. Ada tujuh kriteria yang harus diperhatikan. Berikut syarat-syarat tersebut:

  1. Tidak mencemari air
  2. Saat menggali tanah untuk lubang kotoran, usahakan agar dasar lubang kotoran tidak mencapai permukaan air tanah maksimum. Jika keadaan terpaksa, dinding dan dasar lubang kotoran harus dipadatkan dengan tanah liat atau diplester. Jarang lubang kotoran ke sumur sekurang-kurangnya 10 meter Letak lubang kotoran lebih rendah daripada letak sumur agar air kotor dari lubang kotoran tidak merembes dan mencemari sumur. Tidak membuang air kotor dan buangan air besar ke dalam selokan, empang, danau, sungai,  atau kolam ikan 
  3. Tidak mencemari tanah permukaan
  4. Tidak buang besar di sembarang tempat, seperti kebun, pekarangan, dekat sungai, dekat mata air, atau pinggir jalan
  5. Bebas dari serangga
  6. Jika menggunakan bak air atau penampungan air, sebaiknya dikuras setiap minggu. Hal ini penting untuk mencegah bersarangnya nyamuk demam berdarah.
  7. Ruangan dalam jamban harus terang. Bangunan yang gelap dapat menjadi sarang nyamuk. Lantai jamban diplester rapat agar tidak terdapat celah-celah yang bisa menjadi sarang kecoa atau serangga lainnya. Lantai jamban harus selalu bersih dan kering. Lubang jamban, khususnya jamban cemplung, harus tertutup.
  8. Tidak menimbulkan bau dan nyaman digunakan
  9. Aman digunakan oleh pemakainya
  10. Pada tanah yang mudah longsor, perlu ada penguat pada dinding lubang kotoran dengan pasangan batu/ selongsong anyaman bambu/ bahan penguat lain yang terdapat di daerah setempat
  11. Mudah dibersihkan dan tak menimbulkan gangguan bagi pemakainya
  12. Lantai jamban rata dan miring kearah saluran lubang kotoran
    Jangan membuang plastic, puntung rokok, atau benda lain ke saluran kotoran karena dapat menyumbat saluran Jangan mengalirkan air cucian ke saluran atau lubang kotoran karena jamban akan cepat penuh. Hindarkan cara penyambungan aliran dengan sudut mati. Gunakan pipa berdiameter minimal 4 inci. Letakkan pipa dengan kemiringan minimal 2:100
  13. Tidak menimbulkan pandangan yang kurang sopan
  14. Jamban harus berdinding dan berpintu 

 

 

Pemicuan Stop BABS di Desa Kedungpucang
Pemicuan Stop BABS desa Kalijambe

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Untuk 28 Desa yang ada di Kecamatan Bener, ada 3 Desa yang sudah mendaftarkan  untuk menyatakan ODF  yaitu Desa Kaliurip, Desa Kaliboto dan Desa Nglaris. Selanjutnya, mereka telah berjuang membebaskan warganya dari Buang Air Besar Sembarangan ( BABS ) sejak beberapa tahun terakhir. “Tidaklah mudah mengajak masyarakat untuk berubah perilaku karna sebagian masyarakat masih percaya BAB diblumbang maupun pembuangan kekolam atau sungai setaunya tidak ada masalah apa-apa. Upayanya pelan-pelan terus dilakukan, terus didukung dengan bantuan, akhirnya membuahkan hasil,”

 

 

Ayo saatnya berubahhh di mulai dari diri sendiri, jangan biarkan penyakit menular terus bertambah <>

Share:

Leave comment